You are currently viewing Diet Plastik 2026, Langkah Baru Demi Keberlanjutan Bumi

Diet Plastik 2026, Langkah Baru Demi Keberlanjutan Bumi

Sabtu, 14 Maret 2026 Global Youth Conference (GYC) bersama beberapa sekolah di Yogyakarta kembali melaksanakan sesi lanjutan dari program Diet Plastik. Sesi ini merupakan pertemuan ketiga sekaligus penutup dari rangkaian yang sudah berjalan sejak 7 Februari. Penasaran bagaimana keseruan sesi penutup Diet Plastik di tahun 2026? Yuk simak ceritanya bersama.

Diet Plastik 2026

Hadir kembali dengan tema “Saatnya Bergerak, Demi Bumi Lebih Bersih”, di tahun 2026 ini Diet Plastik diadakan lewat 3 sesi sharing online dan 2 aksi mandiri pendataan penggunaan plastik. Pada batch ini GYC tidak berjalan sendiri. Berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Jogja dan mengajak 10 sekolah tingkat SMA untuk mengirimkan perwakilannya.

Pada sesi pertamanya, program ini dibuka bersama Ari Gunawan selaku co-founder GYC dan salah satu alumni komunitas, Shanti Yuliastiti. Mereka mengajak para siswa untuk saling membagikan ceritanya sekaligus membekali mereka tentang pemahaman isu keberlanjutan atau yang umum dikenal dengan SDGs.

Di sini Ari bercerita tentang apa saja yang bisa dilakukan anak muda dalam membuat perubahan yang mungkin terasa sederhana, tetapi sebenarnya bisa membuat dampak nyata untuk menjaga keberlanjutan. Masih di hari yang sama juga, Shanti mengajak para pelajar berpikir reflektif tentang permasalahan limbah plastik.

Berbicara tentang keseruannya. Salah satu pelajar mengungkapkan cukup terpenuhi dengan pembawaan dan ilmu yang didapatnya. “Saya sangat senang dengan ilmu yang bisa didapatkan dan harapannya semoga generasi muda Indonesia bisa lebih peduli dengan kondisinya sesuai dengan mental, jasmani, rohani, lingkungan, dan sebagainya”. Ujar Hanna Anjani Humairah, salah satu pelajar dari SMAN 2 Sleman.

379 Kemasan Plastik Terdata, Awal Pelajar Jogja Menghitung Penggunaan Plastik

Setelah dibekali lewat sesi pertamanya, para pelajar langsung diminta untuk mendata penggunaan plastik pribadinya selama seminggu. Pada periode aksi mandiri pertama ini, ada total 21 pelajar yang turut mendata.

Berdasarkan datanya, pada Minggu pertama sebelum melakukan Diet Plastik, ada akumulasi hingga 379 bungkus plastik yang digunakan. Adapun penggunaan terbanyak yakni plastik kemasan sedang yang umumnya digunakan untuk makanan ringan ataupun kemasan mie instan.

Walaupun belum ada arahan untuk mengurangi, ada 6 pelajar yang rutin mendata sudah terbiasa mengurangi penggunaan plastik. Ini dibuktikan dengan jumlah plastik yang tercatat di bawah 20 kemasan. Bahkan ada 1 pelajar asal SMAN 2 Wates bernama Ferren Alzena Jacinda yang tidak menggunakan satupun plastik selama periode ini. Dia cenderung menggunakan tas belanja sendiri.

“Di kebiasaanku, aku memang sudah mengurangi/jarang menggunakan banyak plastik. Selain untuk kebaikan lingkungan, plastik juga berpengaruh kepada apa yang kita konsumsi” tuturnya saat bercerita tentang refleksi saat pertemuan online.

Walau terdengar berhasil, tetapi cerita ini hanyalah sebagian dari perjalanan para pelajar Jogja dalam melakukan Diet Plastik. Jika di awal mereka hanya diminta untuk membagikan pengalaman dan mendata penggunaan plastik sehari-hari, selanjutnya masih ada beberapa tantangan yang akan dihadapi mereka. Penasaran bagaimana ceritanya? Nantikan kelanjutannya di artikel selanjutnya.